Kematian adalah segelintir paket takdir yg diberikan Tuhan kepada kita. Setiap orang memiliki waktu masing2 untuk mencapai hal itu. Ada yg belum sempat melihat alam dunia ini, eh sudah diambil duluan oleh sang Pencipta, ada yg masih belajar merangkak, remaja, orang mapan, atau manula renta yg hampir menginjak usia satu abad. Semua punya porsi hidup berapa tahun kita singgah di dunia ini.
Menghadapi kematian, beragam pula cara setiap orang harus berakhir dengan kematian. Saya punya cerita, saya punya tante, sebut saja namanya Dilla. Berbelas-belas tahun lamanya beliau mengadu nasib di jakarta. Sampai dia harus bertemu jodohnya disana pula. Beberapa tahun belakangan ini, dia pulang ke rumah orangtuanya di Makassar. Katanya, dia juga sudah bercerai dengan suami terdahulunya dan telah berhenti kerja di tempat dia mengais rejeki selama ini disana. Dapat kabar, kalau beliau terserang penyakit kanker. Saya kurang tau kanker apa. Makanan yg masuk ke perutnya tidaklah boleh sembarangan. Harus sesuai anjuran dokter dan ketentuan. Banyak pantangan ini itu dan sebagainya. Dan beliau patuh mengikuti semua pantangan2 itu.
Awal Bulan Desember 2011. Beliau masih terlihat sehat dengan balutan busana muslim rapi dan jilbab pink, kala itu beliau ikut bantu2 bikin kue di rumah saya, karena kebetulan kakak pertama saya akan melaksanakan pernikahan. sebagai tante dan tetangga yg memiliki rasa saling tolong menolong, beliau ikut bersibuk-sibuk ria membuat kue bersama tetangga yg lain. Sempat beberapa kali dilarang sama tante saya yg lain untuk jangan duduk terlalu lama dan banyak kerja. Karena kita semua tau, sebenarnya kondisi dia sangat lemah, tapi beliau berkeras ingin terus membantu dan sempat bilang “kok dilarang? Kita kan mau belajar bikin kue juga” dan pernyataannya disambung gelak tawa orang2.
Sehabis resepsi pernikahan itu, hari2 berikutnya beliau masih sering datang ke rumah untuk ngobrol2 dengan mama saya. Hampir tiap sore dia pasti ada. Dan berita mengagetkan datang ketika sudah memasuki awal tahun 2012, kalau beliau sudah tdk bisa bangun lagi. Punggung dan *maaf* pantatnya tdk bisa menopangnya lagi. Jadilah dia hanya bisa berbaring dan terkulai di atas tempat tidur. Untuk duduk pun tidak bisa. Hari berganti dan kondisi beliau semakin parah. Keluarganya mengerahkan semua tenaga medis, obat2an dr yg akademis, herbal, tradisional, dll sudah dijalani demi kesembuhan beliau.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tidak ada perkembangan yg signifikan, beliau masih terbaring di atas tempat tidurnya. Semua aktifitasnya hanya bisa di atas ranjang. Mandi,makan, buang air, dsb. Untungnya keluarga mereka saling tolong menolong. Beliau pun harus di botakin rambutnya, dia merelakan rambut sebahunya untuk dipangkas. Sudah terlalu banyak pengorbanan yg orang2 disekitarnya lakukan untuk kesembuhan beliau. Apa yg beliau mau semua diturutin.
Saya pribadi, lumayan dekat dgn beliau, beliau yg aslinya sangat doyan ngobrol inilah yg selalu menjadi promoters saya ke keluarganya kalo saya jualan tiket pesawat, adik2nya atau keluarganya yg dari Madura jika ingin ke Makassar pasti pesan tiketnya di saya aja, beliau sangat lincah berkomunikasi. Baik via telfon maupun sms. memang beberapa organ tubuhnya sakit dan lemah, tapi beliau layaknya orang normal ketika sudah berbicara dan bercanda, walau semua itu tetep dilakukan sambil tiduran. Ketika ngobrol/bergurau dengannya, selalu ada terpancar milyaran semangat di raut wajahnya.
Tepat 14 Juli kemarin, hari sabtu. Beliau telah dipanggil ke sang Illahi. Jam 3 dinihari. Beruntungnya, smua keluarganya yg dari luar kota sudah berkumpul semua, memang beberapa hari yg lalu sebelum wafat, beliau sudah tidak mampu berbicara lagi, hanya bisa megap-megap (sakaratul maut) sedihnya jika mengenang beliau, ada banyak percakapan yg sy lakukan dengan beliau, sy masih sempat ngecengin beliau, kalau suatu saat sembuh, tante harus beli tiket ke jkt di sy, karena katanya dia kangen teman2 kantornya disana.
Paginya, sy menyempatkan utk melihatnya utk yg terakhir kalinya, beliau sudah dibalut kain kafan dan sarung batik cokelat. Beliau terlihat tetap cantik dan bersih walaupun botak. 6 bulan adalah waktu yg lama untuk hidup dengan tiduran terus di tempat tidur sambil berzikir sepanjang hari, 6 bulan dengan berkelahi dengan semua penyakit2 di dalam badan. Akhirnya harus berakhir dengan dikembalikannya beliau ke sang Pemilik. Mungkin beliau akan lebih bahagia di sisiNYA. Selamat jalan tante, tenang dan damai di keribaanNYA, kami mencintaimu









